Jumat, 24 Januari 2014

Posting With Allah part 7 jilid do'a = sodaqoh dengan do'a

ketika kita berdo'a kebanyakan kita selalu mementingkan kebutuhan kita sendiri, padahal jika do'anya ingin di kabul maka do'akanlah kebutuhan orang lain juga. pernah dengar ungkapan itu? yaps jika kita ingin pintar maka pintarkan lah orang lain, jika kita ingin sukses maka sukseskanlah orang lain, jika ingin kaya aka kayakanlah orang lain. waah sepertinya berlebihan ya, bagaimana kita bisa memintarkan orang lain, kita sendiri saja kurang pintar, bagaimana kita mensukseskan orang lain kita sendiri saja belum sukses, bagaimana kita mengkayakan orang lain kita sendiri saja belum di beri kekayaan. 
yakin dengan kekuatan sodaqoh, ingat sodaqoh bukan hanya dengan uang saja, tenaga, pikiran, ilmu dan lain sebagainnya,. ketika kita menguasai suatu pelajar tertentu akan lebih bermanfaat jika kita berbagi mengajarkannya ke teman sekitar atau orang lain, maka dengan itu bukan hanya kita belajar mengulang akan tetapi kita juga lebih bisa mengingat dan menguasi pelajaran tersebut, dan kita harus yakin ketika kita memberikan ilmu kitea terhadap orang lain makan suatu saat kita juga akan di beri pengetahuan yang lebih oleh Allah SWT melalui pelantaranya.
sodaqoh pun bisa lewat do'a, kekita kita tak lagi kuasa memberikan apa yang kita miliki, entah itu materi, tenaga atau pun pengetahuan, mari kita do'a kan orang-orang sekitar kita agar hidup bahagia, hidup berkah, dan lain sebagainya.  nah ada sedikit kisah nih buat saudara-saudara, saya ambil kisah ini setelah baca dari http://www.andyfebrian.com/doa-sang-juara/  mudah mudahan bermanfaat.
Suatu ketika seorang anak sedang mengikuti lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, karena saat itu adalah babak final. Pada perlombaan itu hanya tinggal tersisa empat orang, dan mereka masing-masing memamerkan mobil mainan yang dimilikinya. Semua mainan mobil balap itu adalah buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Andi, mobilnya tidak terlalu begitu istimewa, namun ia termasuk ke dalam empat anak yang masuki final. Di banding semua lawannya, mobil Andi adalah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyaksikan kekuatan mobil itu, untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang mobil si Andi memang tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana, dan sedikit lampu yang berkedip di atasnya tentu tidak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Andi bangga dengan itu semua, karena mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan, kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak bersiap-siap di garis start untuk mendorong mobil mereka sekencang-kencangnya. Di setiap jalur lintasan, telah siap empat mobil dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan jalur terpisah diantaranya. Namun sesaat kemudian, Andi meminta waktu sebentar sebelum lomba di mulai. Ia tampak berkomat kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertampuh memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”.
[Duarr...]
Tanda telah di mulai. Dengan hentakan yang kuat, mereka mulai mendorong mobilnya masing-masing dengan kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak soraya, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.
“Ayo, ayo, ayo! Cepat! Cepat! Maju maju maju! Ayo..!!!”, begitu teriak mereka.
Dan ternyata, Andi lah pemenangnya. Yah.., semuanya senang. Begitu juga dengan Andi.
Ia berucap, dan berkomat kamit lagi dalam hati, “Terima kasih Tuhan..”.
Saat pembagian piala tiba, Andi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia itu bertanya, “Hey jagoan, kamu tadi pasti berdoa kepada Tuhan, agar kamu bisa menang kan?!?”.
Andi terdiam, “Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan. Sepertinya tidak adil untuk meminta kepada Tuhan untuk menolong saya agar mengalahkan orang lain. Tetapi tadi, saya hanya memohon kepada Tuhan supaya saya tidak menangis jika saya kalah”.
Semua hadirin terdiam mendengar hal itu. Setelah beberapa saat, terdengar gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
Begitulah cerita inspiratif tentang doa sang juara. Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan, untuk mengabulkan permintaan kita, menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Padahal, yang kita butuhkan adalah bimbinganNya, tuntunanNya, dan panduanNya. Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat, kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tidak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui?! Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Karena itu semua adalah ujian Tuhan kepada setiap hambanya yang sholeh. Dan yang perlu di sadari & di ingat kembali, bahwa Tuhan menyayangi & mencintai setiap hambaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar