Sabtu, 16 November 2013

Posting with Allah part 4 ( cerita a kecil dan A BESAR)

Dalam sebuah buku yang saya baca dengan judul la yahtasib yang di tulis oleh Umyung mustika, tertulis bahwa dalam berdo’a jangan pernah posisikan Allah sebagai Pembantu. Dalam berdo’a kita sering memposisikan Allah sebagai assisten atau pembantu” misalnya kita minta di berikan ini, itu dansebagainya. Padahal Allah lah yang menilai kita pantas atau tidak mendapatkan sesuatu. Karena Allah penya Rencana yang terbaik buat hamba-Nya.
Ingat kita selalu menuntut meminta berikan aku ini, itu, aku ingin begini, ingin begitu, Rizki aku, Jodoh aku, Harta aku, dan aku aku dengan a kecil mari kita ubah huruf a (kecil) menjadi A (BESAR). Maksudnya ketika kita meminta dengan A besar berikan Aku ini, itu, Aku ingin begini, ingin begitu, Rizki Aku, Jodoh Aku, Harta Aku. Maksudnya ? ya benar kita sandarkan semuanya kepada Allah dan kita harus meyakini baik menurut Allah baik juga menurut kita. Rizki Aku rikzi yang Allah ridhoi, jodoh Aku jodoh yang baik menurut Allah, sesudah itu kita benar benar pasrahkan pada Allah, biar Allah yang ingin menjadikan kita seperti apa yang dikehendaki-Nya. Tapi yang sering terjadi kita malah melawan, kita maunya begini, maunya begitu, kalau kita begini kita akan begini.
Pernah membeli sepatu ? atau apapun barang yang mempunyai ukuran ? kalo begitu mari kita ingat ingat.! Pernahkah kita membli barang yang menurut kita bagus bentuknya, warnanya namun kektika kita hendak membelinya dan kita coba ternyata barang itu tak cukup, kebesaran, atau kekecilan, sehingga kita mendapatkan barang yang merupakan pilihan kedua atau ketiga dan seterusnya sampai benar benar cocok dan pas dengan ukuran yang kita punya atau inginkan. Apa artinya mungkin kita bisa jawab, ya gak selamanya yang menurut kita bagus dan yang terbaik itu cocok dan pas untuk kita , , 

Berteriak Sekeras apa pun kita dalam berdo’a,  Allah maha mendengar rintihan suara hati kecil atas apa yang benar benar kita butuhkan, bukan kah Allah maha mengetahui.  ingat bukan berarti Allah tidak mengabulkan apa yang kita pinta tapi mari kita selidiki sebelumnya, pertanyaannya apakah benar yang kita pinta itu apa yang benar benar kita butuhkan , , dan apakah kita juga sudah pantas mendapatkannya.
Ada sebuah kisah pemuda biasa saja sebut saja namanya Rahman. Anak dari keluarga sederhana dan mungkin lebih cenderung kekurangan. Semenjak kelas 3 SMP dia menginginkan Sebuah sepeda motor, namun dia sadar dengan keadaan keluarganya, dan tak mau merepotkan dan menambah beban kedua Orangtua nya. Dia selalu berdo’a dalam setiap ibadahnya karena sangat meninginkan sepeda motor namun sampe dia lulus SMA do’anya belum kunjung terkabul. Sampai akhirnya dia bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Dan saat itu dia membutuhkan kendaraan untuk bulak balik kerja ya sebut saja minimal dia membutuhkan sebuah sepeda motor untuk memfasilitasi kerjanya. Dan apa yang terjadi. ya pada usia 20 dia membeli motor atas nama sendiri dan dengan uang dari hasil penghasilannya sendiri. Mantapkan Allah selalu tepat waktu, dan memberi apa yang kita butuhkan juga dari kepantasannya. Bukankah dia jadi lebih bangga dengan karena selain do’anya terkabul dia jjuga bisa membeli motor dengan nama sendiri di SKKB nya dan yang lebih penting dari hasil keringatnya sendiri sehingga dia bisa mendapatkan kepuasan tersendiri. Sungguh Ada rencana yang terselip di setiap kejadian. Dan gak ada yang sia sia ..... 
Dari kisah di atas kita bisa memetik hikmah dan pelajaran yakni bahwa do’a itu pasti dikabul. Dan jangan pernah takut do’a kita tak di terima atau di kabul. Allah tak akan pernah lupa. Bagaimana mungkin kita sebagai orang muslim dan mukmin tidak di dengar do’a nya sedangkan Setan yang seburuk-buruknya makhluk, ketika dia meminta tenggang waktu kepada Allah untuk memperpanjang hidupnya hingga hari kiamat, di kabulkan permintaannya. 


Ingat seorang anak kecil pun ketika menginginkan sesuatu sampai merengek menangis dan n lama kelamaan orang tuanya pun risih dan gak tega dengan anaknya yang menangis sehingga apa yang di inginkan anak itu pun diturutinya dengan menyelipkan nasihat, jangan menagis lagi. Jangan cengeng .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar