Nabi Ayyub A.S. adalah salah seorang nabi yang terkenal kaya raya
dengan harta yang melimpah dan jumlah ternak yang luar biasa banyaknya.
Namun Walaupun demikian, Nabi Ayyub A.S. tetap tekun beribadah kepada
Allah dan tidak berhenti-berhentinya melakukan kebajikan. Nabi Ayyub
juga terkenal suka menolong orang-orang yang menderita, terutama mereka
yang termasuk kaum fakir miskin.
Para malaikat di langit terkagum-kagum dan membicarakan tentang
ketaatan Ayyub dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah. Iblis
yang mendengar pembicaraan para malaikat ini merasa iri dan ingin
menjerumuskan Ayyub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.
Mula-mula iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayyub agar tersesat dan
tidak bersyukur kepada Allah, namun usahanya ini gagal, Nabi Ayyub
tetap tak tergoyahkan. Lalu iblis menghadap Allah, meminta agak ia
diizinkan untuk menguji keikhlasan Nabi Ayyub. Iblis berkata, “Wahai
Tuhan, sesungguhnya Ayyub senantiasa patuh dan berbakti kepada-Mu,
senantiasa memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan
kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadanya, karena ia ingin
kekayaannya tetap terpelihara. Semua ibadahnya bukan karena ikhlas,
cinta, dan taat kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan
harta benda, serta anak-anak dan istrinya, belum tentu ia akan tetap
taat dan ikhlas menyembah-Mu.”
Allah berfirman kepada iblis, “Sesungguhnya Ayyub adalah hamba-Ku
yang sangat taat kepada-Ku. Ia sesorang mu’min sejati. Apa yang ia
lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong
iman yang teguh kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyahkan hanya
oleh perubahan keadaan duniawi. Cintanya kepada-Ku takkan berkurang
walaupun ditimpa musibah apa pun yang melanda dirinya, karena ia yakin
bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat
Aku cabut daripadanya, atau Ku-jadikan berlipat ganda. Ia bersih dari
segala tuduhan dan prasangkamu.
Engkau tidak rela melihat hamba-hamba-Ku, anak cucu Adam,
berada di atas jalan yang lurus. Untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan
keimanannya pada takdir-Ku, Ku-izinkan kau menggoda dan mencoba
memalingkannya dari-Ku. Kerahkan seluruh pembantu-pembantumu untuk
menggoda Ayyub melalui harta dan keluarganya. Cerai beraikan keluarganya
yang rukun damai sejahtera itu. Lihatlah, sampai dimana kemampuanmu
untuk menyesatkan Ayyub hamba-Ku.”
Setelah itu, iblis dan para pembantunya mulai menyerbu keimanan Nabi
Ayyub A.S. Mula-mula mereka membinasakan hewan ternak pemeliharaan
Ayyub, disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertaniannya dibakar
hingga musnah.
Iblis mengira Nabi Ayyub A.S. akan berkeluh kesah setelah kehilangan
ternak dan pertaniannya, namun ternyata Nabi Ayyub as tetap berhusnuzhon
(berbaik sangka) kepada Allah. Segalanya ia pasrahkan kepada Allah.
Harta adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat saja diambil
kembali.
Berikutnya iblis mendatangi putra-putra Nabi Ayyub AS yang sedang
berada di sebuah gedung yang besar dan megah. Mereka
menggoyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu roboh dan
membuat anak-anak dari Nabi Ayyub A.S. yang berada di dalamnya
meninggal.
Iblis mengira usahanya kali ini akan berhasil menggoyahkan iman dari
Nabi Ayyub yang memang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun
sekali lagi mereka harus kecewa. Nabi Ayyub tetap berserah diri kepada
Allah. Ia memang bersedih hati dan menangis, tapi jiwa dan hatinya tetap
kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah yang Maha Pemberi menghendaki
sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya.
Iblis yang masih belum puas, lalu menaruh baksil di sekujur tubuh
Nabi Ayyub sehingga beliau menderita penyakit kulit yang sangat
menjijikkan, hingga ia dijauhi sanak famili dan tetangganya.
Istri-istrinya banyak yang lari meninggalkannya, hanya seorang saja yang
tetap setia mendampinginya, yaitu Rahmah. Lebih parah lagi, para
tetangga Nabi Ayyub AS yang tidak mau ketularan penyakit yang diderita
Nabi Ayyub, mengusirnya dari kampung mereka. Maka pergilah Nabi Ayyub
dan istrinya Rahmah ke sebuah tempat yang sepi dari manusia.
Waktu 7 tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian
terberat bagi Ayyub dan Rahmah, namun Nabi Ayyub tetap bersabar dan
berzikir menyebut Asma Allah. Diriwayatkan bahwa istrinya berkata, “Hai
Ayyub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya dia akan
membebaskanmu.”
Namun Nabi Ayyub AS malah menjawab, “Aku telah hidup selama 70 tahun
dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama
7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun.”
Begitulah, Nabi Ayyub menerima ujian dari Allah SWT dengan sabar dan
ikhlas. Ia telah hidup dalam kenikmatan selama puluhan tahun, maka ia
merasa malu untuk berkeluh kesah kepada Allah SWT atas kesengsaraan yang
hanya beberapa tahun. Sakit Nabi Ayyub membuat tidak ada lagi anggota
badannya yang utuh kecuali jantung/hati dan lidahnya. Dengan hati dan
lidahnya ini, Nabi Ayyub AS tak pernah berhenti berzikir kepada Allah,
baik di waktu pagi, siang, sore dan malam hari.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rahmah terpaksa bekerja
pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah
pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah
adalah istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka
khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti,
oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.
Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar
majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini
ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung
rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai
suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju
dengan usul majikannya itu.
Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah
menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan
dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk
meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi
suaminya. Nabi Ayyub melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari
berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari
peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.
Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, “Kiranya kau telah
terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah.
Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai
saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu
sampai Allah menentukan takdir-Nya.”
Dengan demikian tinggallah kini Nabi Ayyub seorang diri setelah ia
mengusir Rahmah istrinya. Di tengah kesendiriannya, Nabi Ayyub AS
bermunajat kepada Allah SWT dengan sepenuh hati memohon rahmat dan
kasih-Nya. Allah SWT menerima doa Nabi Ayyub AS yang telah mencapai
puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian dan cobaan.
Berfirmanlah Ia kepada Nabi Ayyub, “Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari
situ akan memancar air yang dengannya kau akan sembuh dari penyakitmu.
Kesehatanmu akan pulih jika kau mempergunakannya untuk minum dan mandi.”
Setelah meminum dan mandi dengan air itu, Ayyub pun sembuh seperti
sedia kala. Sementara itu Rahmah istrinya yang telah pergi
meninggalkannya, rupanya lama-kelamaan merasa kasihan dan tak tega
membiarkan suaminya seorang diri. Ia datang untuk menjenguk, namun ia
tak mengenali lagi suaminya, karena kini Nabi Ayyub tampak lebih sehat,
lebih segar, dan lebih tampan. Nabi Ayyub sangat gembira melihat
istrinya kembali, namun ia teringat sumpahnya yaitu ingin memukul
istrinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu, tapi ia bimbang
karena bagaimanapun istrinya telah turut menderita sewaktu bersamanya 7
tahun ini. Tegakah ia memukulnya seratus kali?
Allah mengetahui kebimbangan yang dirasakan Nabi Ayyub AS. Maka
datanglah wahyu Allah kepada Nabi Ayyub, “Hai Ayyub, ambillah lidi
seratus batang dan pukullah istrimu sekali saja. Dengan demikian
tertebuslah sumpahmu.”
Nabi Ayyub merasa lega dengan jalan keluar yang diwahyukan Allah itu.
Dengan lidi seratus, dipukulnya istrinya dengan satu kali pukulan yang
sangat pelan, maka sumpahnya telah terlaksana.
Berkat kesabaran dan keteguhan imannya, Nabi Ayyub AS dikaruniai lagi
harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah, ia kemudian memperoleh
anak bernama Basyar yang kemudian hari menjadi seorang nabi yang dikenal
dengan nama Zulkifli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar